Bonaventura: Jiwa Manusia

oleh: Ericolas Chandra

 

            Bonaventura adalah orang yang berusaha memperdamaikan Teologi dengan filsafat. Adanya usaha memperdamaikan mengasumsikan bahwa kedua hal tersebut terpisahkan. Dibandingkan pemikiran filsuf abad pertengahan lainnya yang tidak memiliki distingsi jelas antara Teologi dan Filsafat, Bonaventura justru menyatakan bahwa kedua hal tersebut berbeda tetapi tidak terpisahkan. Baginya, Teologi dan Filsafat sama dalam objek material, tetapi berbeda dalam objek formal. Jiwa manusia merupakan pintu diskusi antara Teologi dan Filsafat. Hal ini memungkinkan karena filsafat selalu berangkat dari sudut pandang subjek pertama sebelum membicarakan tentang dunia eksternal. Berarti, dalam diskusi antara Teologi dan Filsafat ini, (sekalipun menggunakan pemikiran dari Plato, Aristoteles, Plotinos dan terutama Agustinus) Bonaventura tidak hanya melakukan pendekatan ontologis, tetapi juga epistemologis.

Diskusi tentang jiwa manusia meliputi beberapa topik penting, yang dapat dirumuskan sebagai berikut: apa itu jiwa; dari mana jiwa berasal dan ke mana jiwa akan pergi; apa hubungan jiwa dengan tubuh; dan bagaimana sifat-sifatnya. Bagi Bonaventura, dan filsuf abad pertengahan lainnya, wahyu memberikan jawaban yang niscaya, dan tugas filsafat adalah merepresentasikan wahyu tersebut secara rasional dan sistematis.

Jiwa manusia adalah seminaliter dari Allah, dan merupakan imago Dei atau segambar-serupa dengan Allah. Hal ini mengimplikasikan bahwa jiwa manusia bersifat immortal.[2] Karena itu, jiwa manusia merupakan substansi yang berbeda dengan tubuh, karena tubuh dapat mati sedangkan jiwa tidak dapat mati (dualism substansial).

Mengenai asal usul jiwa, Bonaventura berposisi pada tradusianisme, yaitu paham bahwa aspek immaterial dari manusia diturunkan melalui generasi alamiah dari tubuh. Dengan demikian, jiwa manusia merupakan turunan dari jiwa Adam. Argumentasi tradusianisme adalah Tuhan sudah selesai dalam melakukan kegiatan penciptaan sehingga tidak ada lagi jiwa baru selain Adam. Maka dari itu jiwa seluruh manusia adalah jiwa turunan yang berdosa dari Adam.

Implikasi dari tradusianisme pada pengetahuan manusia adalah adanya ide bawaan yang merupakan pewarisan dari jiwa Adam. Ide bawaan (innate ideas) dari Adam adalah berupa ide tentang Tuhan dan ide tentang dosa. Hanya saja, menurut Bonaventura, pengetahuan manusia adalah tabula rasa ketika manusia dilahirkan. Jadi, ide bawaan menurut Bonaventura bersifat potensi, bukan actus. Maka konsep ide bawaan Bonaventura disebut sebagai modified innatism.

Pikiran manusia,tunduk pada perubahan, keraguan, kesalahan, dan fenomena yang kita alami dan ketahui juga berubah. [3] Di sisi lain pikiran manusia memiliki kepastian dan tahu bahwa ia melakukannya dan bahwa kita menangkap esensi berubah dan prinsip-prinsip. Hanya Allah yang tidak berubah, dan ini berarti pikiran manusia dibantu oleh Allah dan bahwa objek pengetahuan tertentu yang terlihat dalam beberapa cara sebagai berakar pada Tuhan, seperti yang ada di rationibus aeterna atau ide ilahi. Oleh karena itu melalui rasio aeterna, pikiran mencerap semua hal yang kita terimadari indra.

Terdapat tiga langkah untuk mengantar jiwa pada Tuhan, yaitu: Vestigium; jejak Allah sendiri, ditandai pada materi-materi di luar diri manusia. Imago; refleksi jiwa dengan dirinya sendiri. Similitudo; persatuan mistis antara makhluk dan penciptanya.

 



[1] Copleston, Frederick. 1993. A History Of Philosophy. New York: Doubleday. Hlm.  279-292

[2] Ibid. Hlm. 280

[3] Ibid. Hlm.  287

Is There Miracle ?

Presentation Outline

Name                    :  Ericolas Chandra

Introduction      :

· Magic is not only in kids’ story

· Lately, Government was planning to establish the law of black magic (santet).

· If this is happened, then we must assume that miracle exist. But is miracle really there?

Main Ideas          :

· Definition of miracle: phenomenon that contradict with the law of nature.

· Epistemic gap: how can we decide it is contradict or not

· People often to attribute something they don’t understand to their mystical intuition

Conclusion         :

· Miracle has a pattern, it always against the law of nature

· Since miracle has a pattern, we may understand the phenomenon someday.

· When we understand the phenomenon, it is no longer called miracle.

Do Not Texting While Driving

LTM MPK Bahasa Inggris – Paragraph Writting

Oleh:  Ericolas Chandra (1206245626)

           

            Recently, the number of traffic accidents is increasing and mostly it caused by texting while driving. According to Center of Disease Control and Prevention (CDC), there are 69% of drivers still in the habit of texting while driving. In Indonesia, texting while driving is the most frequent factor of traffic accidents besides roadside ads, drunk, sleepy or unconscious. It is about 31% of traffic accidents are caused by texting while driving. That’s why texting while driving is no longer allowed by government.

            Many peoples don’t realize the dangers of texting while driving due to lack of publication and ignorant of peoples. There are some people don’t know about the dangers, and there are some people know about the dangers but ignore it. Surely it is because for them what they text is more important than the risk of accident. Otherwise, may be they are confident with their driving skill, so they think they must be safe. Their thoughts are wrong, and it is proved by the statistic mentioned above. Either way of reason, it’s already settled as a law that everyone may not texting while driving. Thus what we have to do is to inform them about these dangers.

            Texting while driving can cause several problems. It will scatter driver’s focus, because it doesn’t only distract the sight, but also the movement. Driving a car requires multi-tasking skill that we must coordinate our hands, legs, and eyes. And yes, texting while driving will compound the difficulty of that skill, because we need to do many more things in the same time, both body movement and sight. Regularly, people should use their two hands when they are driving; one for gears and one for steering wheel, but when they are texting, at least one of their hand shall not be used for driving. It is even worse if they are using qwerty-type phone, perhaps they will use their arm to steer the wheel. Also, texting while driving will decrease the concentration, because driver shall share it for what he want to type.

            The more often people texting while driving, the more risk of accident happen.While driving, there is nothing more important than safety, especially if there are passangers in our car we drive. So we recommend you to step aside for a while if you want to do texting. Do not texting while driving.

Outline

Title    : “Do Not Texting While Driving”

 

I.   Introduction     : Why government not allowing texting while driving

a. Supporting sentence    : Statistic of accidents caused by texting is increasing

b. Thesis Statement         : Texting while driving is dangerous

 

II.  Topic sentence  : Many peoples don’t realize the dangers

a. Controling idea           : How peoples abandoned the dangers

b. Supporting idea           : There is lack of publication

 

III.  Topic sentence  : There are several problems in driving caused by texting

a. Controling idea    : what are the problems

b. Supporting ideas  :

§  How peoples regularly drive the car

§  How texting disturb

 

IV.  Conclusion        : Do not texting while driving

a. Safety is the most important

b. Step aside while texting

Film Review: Pitch Perfect

Nama  : Ericolas Chandra

NPM   : 1206245626

 

Pitch Perfect

 

Synopsis

            Started from a defeat in a cappella competition a year before, the story of Barden Bellas has begun. Barden Bellas opened recruitment for freshman to join them against their enemy, Treble Maker. Thus Beca, Fat Amy and others, as freshman of Barden University, were invited to join them. There were many rules in Barden Bellas that made the freshmans had to adapt it. As time goes, they have trained well and have joined several a cappella competition. Beca is actually a jammer, she can compose many songs into one harmony, also she has a hard attitude. With it, Beca lead reformation of Barden Bellas. They started to not always sing a same song, but they created song by compose several song such as just a dream, eternal flame, etc. This flexibility makes Barden Bellas more fun and friendly.

 

My Opinion

            Honestly, I don’t like this movie due to several things. First, this movie is very predictable. I think the story is very common that main characters joined audition, formed a group, lose a little, made some reformation, and finally won a cup. Second, the jokes are not funny. This movie, as comedy genre, had tried to serve some jokes, but those jokes such as vomit, ice cream, dance, etc. are infact very disgusting. Thus predictable story and jokes make the movie is not interesting.

            However, even the story is bad, I like the supporting features of this movie. The songs, especially Beca’s mashup, are very amusing. Actors and actress play nice. They also have very good voice, also they sang those songs very well. Camera and sound effect play their role significantly; they make atmosphere as they will such as fear before came to stage, love when kissing, etc.

Rasio Reliabel dalam Mengembangkan Pengetahuan

LTM Epistemologi: Rasio

Nama  : Ericolas Chandra

NPM   : 1206245626

 

            Rasio merupakan fitur dalam pikiran yang digunakan sebagai sumber pengetahuan, baik apriori maupun aposteriori. Empirisis mengakui adanya rasio sebagai sumber pengetahuan apriori, tetapi bagi mereka pengetahuan tersebut tidak menarik, tidak informatif dan tautologis.[1] Karena itu, mereka mengedepankan persepsi sebagai fitur dalam pikiran yang lebih reliabel untuk memperoleh pengetahuan. Bagi empirisis, pengetahuan apriori hanya merupakan ‘penamaan’ yang bersifat introspektif, dimana hasilnya hanya berupa pernyataan mental yang tidak memiliki korespondensi proposional. Sebaliknya, rasionalis justru memperbesar porsi rasio sebagai sumber pengetahuan yang lebih reliabel daripada pengalaman. Demikianlah reliabilitas rasio menjadi perdebatan antara empirisis dan rasionalis.

Essay ini akan membahas tentang bagaimana pendekatan apriori dapat menghasilkan pengetahuan yang informatif, tidak tautologis dan dapat dijustifikasi. Essay ini dibatasi hanya pada sumber pengetahuan apriori rasio serta mengesampingkan sumber aprioi lain; ide bawaan dan wahyu.

 

Keberadaan Pengetahuan Sintetik Apriori


Sumber Pengetahuan:


Aposteriori (Sintetik)

Apriori: - Analitik : Abstraksi dan definisi

            - Sintetik Apriori

 

Immanuel Kant membedakan pengetahuan apriori menjadi dua, yaitu analitik apriori dan sintetik apriori[2]. Kant membedakan jumlah dan jenis term dalam proposisi analitik yang semula dimengerti dari David Hume. Proposisi “segitiga bukan persegi”, misalnya, tidak didapat dari dunia empiri, juga tidak berbentuk definisi maupun abstraksi. Proposisi tersebut bukan analitik karena menambahkan term baru, dan bukan aposteriori karena didapatkan bukan dari pengalaman. Demikianlah perbedaan antara analitik apriori dengan sintetik apriori adalah pada keberadaan term yang tidak tautologis dalam proposisi.

 

Segitiga adalah bangun datar —> analitik abstraksi (tautologis)

Segitiga adalah bangun datar yang memiliki tiga sisi -> analitik definisi (tautologis)

Segitiga bukan persegi —> sintetik apriori (informatif)

Segitiga dapat membentuk prisma —> sintetik apriori (informatif)

 

            Karena mendahului pengalaman (apriori), pengetahuan yang dihasilkan dari sintesa apriori bersifat sustain dan konsisten. Sebagai contoh, proposisi sintetik apriori; “membunuh itu buruk karena menghilangkan kebebasan orang lain”, dan “5+3x5=20”; proposisi ini selalu berlaku dalam segala waktu dan keadaan. Sifat proposisi sintetik apriori yang demikian menjadi fondasi dari paham deontologi[3].

Keberadaan pengetahuan sintetik apriori merupakan bukti bahwa pendekatan apriori ternyata dapat menghasilkan pengetahuan yang informatif dan tidak tautologis. Sintetik apriori memiliki implikasi besar dalam berbagai diskusi ilmu eksak (khususnya matematika dan kimia) dan filsafat (khususnya ketuhanan dan etika). Descartes dapat memikirkan keberadaan Tuhan dari depan perapian, filsuf-filsuf dapat berargumentasi tentang etika, dan kita dapat mengukur panjang tali untuk menghubungkan dua puncak gunung dari belakang meja dengan menggunakan rumus Phytagoras; terlepas dari nilai kebenarannya, pengetahuan tersebut adalah pengetahuan yang tidak tautologis dan tidak menggunakan pengalaman.

 

Justifikasi pada Proposisi Sintetik Apriori

 

Dari sudut pandang empirisme, sintetik apriori bukanlah pengetahuan, karena masih belum dijustifikasi oleh pengalaman.[4] Bertrand Russel mengkritik teori Kant dengan dua dasar yaitu; kebenaran sintetik apriori tidak bersifat niscaya dan adanya variabel yang dipersepsi dalam dirinya sendiri.[5] Demikianlah sintetik apriori memiliki permasalahan mengenai justifikasinya, baik dipandang dari pihak empirisme maupun rasionalisme.

Opsi jawaban untuk permasalahan justifikasi ini adalah fondasionalisme dan koherentisme. Fondasionalisme mengatakan bahwa terdapat kepercayaan-kepercayaan dasar (basic beliefs) yang menjadi fondasi untuk mengembangkan kepercayaan berikutnya. Koherentisme mengatakan bahwa bukan kepercayaan dasar yang diperlukan, melainkan hubungan logis antara setiap kepercayaan. Kendala dalam justifikasi sintetik apriori adalah kemungkinan terjadinya argumentasi melingkar yang terisolasi serta kemungkinan adanya sistem koherensi alternatif. Fondasionalisme tidak membuka ruang pada evaluasi terhadap kepercayaan-kepercayaan dasar, karena itu pengetahuan yang dihasilkan dalam dirinya sendiri telah mengandung asumsi. Demikianlah justifikasi koherentisme lebih relevan untuk proposisi sintetik apriori, kita dapat terjustifikasi dengan percaya pada kepercayaan yang sesuai dengan rangkaian kepercayaan yang telah ada.

Justifikasi koherentisme mengimplikasikan bahwa proposisi yang dihasilkan bersifat self-evidence dimana dalam dirinya sendiri sudah terkandung nilai kebenarannya. Karena itu proposisi sintetik apriori tidak perlu dijustifikasi lagi dengan pengalaman.

Memang, nilai kebenaran dari proposisi sintetik apriori tidak bersifat niscaya sebagaimana proposisi analitik. Hal ini merupakan implikasi dari sifatnya yang tidak tautologis. Kebenaran proposisi sintetik apriori bergantung pada kemampuan rasio subjek. Proposisi “4x9=45” dapat dibuktikan nilai kebenarannya dalam dirinya sendiri bahwa ia salah. Karena itu, rasio merupakan extra-sensory untuk membentuk proposisi yang benar dan mengetahui nilai kebenaran suatu proposisi.

Namun, sekalipun tidak bersifat niscaya, proposisi tetap reliabel sebagai sumber pengetahuan. Sama seperti empirisis percaya pada justifikasi dari kemampuan persepsi, kita pun dapat percaya pada justifikasi dari kemampuan rasio. Demikianlah reliabilitas pada proposisi sintetik apriori adalah berdasarkan posibilitas untuk menemukan kebenaran serta kegunaannya secara pragmatis.

 

Simpulan

            Sintetik apriori adalah jalan bagi rasio untuk mengembangkan pengetahuan. Sintetik apriori bersifat self-evidence, kontingen dan informatif (tidak tautologis). Karena mendahului pengalaman, proposisi yang dihasikan dari sintetik apriori bersifat sustain dan konsisten. Justifikasi atas proposisi sintetik apriori terdapat dalam koherensinya terhadap sistem kepercayaan yang telah ada. Proposisi sintetik apriori dapat difalsifikasi dan dinilai benar atau salahnya. Kebenaran proposisinya juga dipengaruhi oleh kemampuan rasio sang subjek. Sekalipun tidak niscaya, proposisi sintetik apriori tetap reliabel untuk mengembangkan pengetahuan serta berguna secara pragmatis.

 

 

Kepustakaan

 

Bagini, Julian. Philosophy: Key Themes. London:Palgrave. 2002.

Huemer, Michael. Epistemology: Contemporary Readings. New York: Routledge. 2002.

O’Brien, Dan. An Introduction to The Theory of Knowledge. Cambridge: Polity Press. 2006.



[1] Dan O’Brien, 2006.  An Introduction to The Theory of Knowledge. Cambridge: Polity Press. Hal. 26.

[2] Michael Huemer. 2002. Epistemology: Contemporary Readings. New York: Routledge. Hal. 125-126

[3] Jullian Bagini, 2002. Philosophy: Key Themes. London:Palgrave. Hal. 45

[4] Dan O’Brien, Op.Cit. Hal. 29

[5] Michael Huemer, Op.Cit. Hal. 127

buddhism

Kesunyataan

 

            Kata ‘kesunyataan’ berasal dari bahasa sansekerta ‘sunyata’ yang berarti jalan pikiran yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata manusia.  Kesunyataan berarti kenyataan mutlak yang tidak bergantung pada ruang dan waktu.  Kesunyataan tidak menyangkal keberadaan segala sesuatu, tetapi menyangkal adanya suatu diri yang tetap dan tidak berubah di dalam atau di balik segala sesuatu.

            Sumedha Widyadharma dalam bukunya[1] mengungkapkan bahwa ajaran pokok Sang Buddha terletak pada empat kesunyataan mulia, yaitu:

1.      Dukkha, dukkha

2.      Dukkha Samudaya, sumber dukkha

3.      Dukkha Nirodha, terhentinya dukkha

4.      Magga, jalan yang menuju ke terhentinya dukkha

Ariya Chandra dalam bukunya[2] memaparkan tiga jenis dukkha, yaitu:

1.      Dukkha-dukkha, yaitu dukkha sebagai penderitaan biasa, sakit, tua, lahir, mati, atau umumnya dikenal sebagai penderitaan jasmaniah.

2.      Viparinama-dukkha, yaitu dukkha yang timbul sebagai akibat dari perubahan yang terjadi.

3.      Sankhara-dukka, yaitu dukkha yang timbul sebagai akibat proses pancakhandha

Kesunyataan mulia pertama pada umumnya diterjemahkan sebagai kesunyataan mulia tentang penderitaan.  Dapat diartikan bahwa menurut paham Buddhis, penghidupan adalah penderitaan dan kesakitan, namun ini tidak dimaknai secara pesimistis melainkan realistis.

Kesunyataan mulia kedua membahas tentang sumber dukkha.  Dukkha bersumber dari tanha, yaitu kehausan atau nafsu keinginan yang tidak ada habisnya.  Hal ini dimaknai bahwa penderitaan bisa terjadi karena adanya hasrat yang tidak tersampaikan.

Kesunyataan mulia ketiga membahas tentang terhentinya dukkha.  Dukkha terhenti bukan ketika hasrat tersampaikan, karena ketika suatu hasrat tersampaikan akan muncul hasrat baru yang lain.  Oleh karena itu, dukkha baru terhenti ketika kita menghilangkan hasrat.

Kesunyataan mulia keempat membahas tentang jalan menuju kepada terhentinya dukkha yang sering dikenal sebagai “jalan tengah”, karena ia menghindari dua hal yang ekstrim antara mencara kebahagiaan dari nafsu indria dan kebahagiaan dari menyiksa diri.  Jalan tengah ini sering disebut sebagai “ariya atthangika magga” (delapan jalan utama)[3], yaitu:

1.      Samma Ditthi              - Pengertian benar

2.      Samma Sankappa       - Pikiran benar

3.      Samma Vaca              - Ucapan benar

4.      Samma Kammanta      - Perbuatan benar

5.      Samma Ajiva              - Penghidupan benar

6.      Samma Vayama          - Daya Upaya benar

7.      Samma Sati                - Perhatian benar

8.      Samma Samadhi         - Konsentrasi benar

 

Kepustakaan

Chandra Ariya; Soelyono. Buku Ajar & Rancangan Pengajaran MPK Agama Buddha. Tp. 2013.

Widyadharma, MP Sumedha. Dhamma-Sari. Jakarta: Penerbit Cetiya Vatthu Daya, 2006.



[1] MP Sumedha Widyadharma. 2006. Dhamma-Sari. Jakarta: Penerbit Cetiya Vatthu Daya. Hal. 21

[2] Ariya Chandra, 2013. Buku Ajar & Rancangan Pengajaran MPK Agama Buddha. Tp. Hal. 10

[3] MP Sumedha Widyadharma. Op.Cit. Hal 57

Pengejar Pangajar Pengerja

Essay Pribadi, oleh: Ericolas Chandra

Diserahkan kepada Tanoto Foundation sebagai syarat pengajuan beasiswa 2013

Saya, Ericolas Chandra, adalah mahasiswa Ilmu Filsafat Universitas Indonesia yang sebelumnya pernah mengikuti pendidikan Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Bethel (STTB). Dalam kuliah Teologi tersebut, saya dapati keperluan untuk memahami filsafat sehingga saya memutuskan untuk menambah kuliah di program didik ilmu filsafat Universitas Indonesia. Saya mensiasati kuliah Teologi saya dengan berpindah ke program S1 koresponden untuk memudahkan saya dalam pemanfaatan waktu. Demikianlah saat ini saya berkuliah di dua kampus sekaligus, yaitu; S1 reguler Ilmu Filsafat Universitas Indonesia dan S1 koresponden Teologi Harvest International Theological Seminary.

Bidang Teologi dan filsafat saya geluti atas dasar kesadaran bahwa lingkungan saya secara khusus dan Indonesia secara umum sedang mengalami krisis dalam pendidikan etika. Menurut saya, moral bangsa Indonesia dapat dibangun melalui dua pendekatan; yaitu pendekatan religius dan pendekatan intelektual. Demikianlah saya berusaha mengenali berbagai macam agama, budaya dan ideologi untuk menjawab masalah praktis mengenai apa yang baik dan apa yang buruk bagi komunitas ini. Akan tetapi seiring berjalannya pendidikan, saya menyadari bahwa bidang yang saya geluti ini penting namun tidak banyak pengerja yang mengerjakannya. Karena itu, semakin ke depan saya bertendensi menjadi pelayan akademis untuk menghasilkan lebih banyak lagi pengerja.

Dalam jangka waktu lima tahun setelah saya lulus program S1 Filsafat, saya berencana melakukan pelayanan akademis untuk bidang Teologi sambil meneruskan pendidikan pada jenjang S2 dan S3 Filsafat sebagai persiapan untuk pelayanan akademis di bidang filsafat. Pada bidang filsafat, S1 saya konsentrasikan pada kebudayaan dan ketuhanan, S2 pada etika dan eksistensialisme, sedangkan pada S3 saya pada metodologi dan logika. Menurut saya, beberapa tahun ke depan pelayanan akademis lebih memiliki urgensi dibandingkan pelayanan praktis karena kurangnya pengerja yang ahli di bidang Teologi dan filsafat, baik segi kuantitas maupun kualitas. Hal ini terjadi karena banyaknya dosen senior filsafat yang memutuskan untuk pensiun. Tanpa adanya regenerasi pelayanan akademis, sarjana-sarjana Indonesia beberapa tahun mendatang akan mengalami kemunduran mutu, sehingga pada akhirnya akan berdampak secara tidak langsung pada pelayanan praktis.

Beberapa pelajaran filsafat merupakan mata kuliah wajib universitas yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa Universitas Indonesia. Bagi ribuan mahasiswa Universitas Indonesia tersebut, pihak kampus hanya menyediakan tidak sampai tiga puluh orang pengajar yang bersertifikat lulusan program didik filsafat, selebihnya adalah dosen jurusan lain yang merangkap menjadi pengajar filsafat. Keadaan yang lebih buruk mungkin dialami oleh kampus lain yang sama sekali tidak ada program pendidikan filsafat di dalamnya. Keadaan ini menuntut penambahan jumlah pengajar filsafat untuk menopang dan mengembangkan kualitas kurikulum pengajaran bagi mahasiswa. Dengan alasan-alasan tersebut, saya berubah haluan dari pengejar pengerja menjadi pengejar pengajar pengerja.

Langkah yang telah saya tempuh untuk mencapai tujuan saya tersebut antara lain adalah saya telah membuat beberapa anotasi dalam bidang bahasa, logika dan ketuhanan yang saya harap kelak diterbitkan sebagai buku pedoman perkuliahan di masa depan. Selain itu, saya juga telah menerjemahkan beberapa buku akademis berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Demikianlah langkah dan rencana saya untuk menjadi pelayan akademis bagi bangsa Indonesia: menambah jumlah pengajar bagi pengerja pada daerah pusat pendidikan sehingga secara tidak langsung mengembangkan pendidikan hingga ke daerah-daerah.

YTC @  Bethlehem Van Turgo Februari - Mei 2012


Bukit Turgo merupakan tempat yang tidak mengalami banyak kerusakan pasca meletusnya gunung merapi 2010 yang lalu. Akan tetapi, karena berbagai alasan, misalnya awan panas, dan ramalan gunung merapi akan meletus lagi di 2013, tanah di Turgo di jual dengan harga yang murah.

Saat ini Bethlehem Van Turgo masih berdiri kurang lebih 40 km di utara Yogyakarta. Berminat kesana?

Ini helm tentara USA yang mati di perang vietnam,
tertembak di punggung. Ya, ia mati tertembak di punggung 2 kali.
Mungkin tertembak satu kali belum mati, lalu ditembak lagi, mati.

bukan itu yang penting.. yang saya sukai adalah tulisannya..

“If you haven’t been there, SHUT THE FUCK UP”

curhat tentara di medan perang, menggerutu terhadap eksekutif Amerika yang membuat aturan ini-itu dari belakang meja dan hanya berdasarkan data, tanpa tahu kenyataan di lapangan yang sesungguhnya.

yang bikin nangis, kata-kata ini kebetulan cocok untuk menggambarkan perasaan Bethlehem Van Turgo.