Bonaventura: Jiwa Manusia
oleh: Ericolas Chandra
Bonaventura adalah orang yang berusaha memperdamaikan Teologi dengan filsafat. Adanya usaha memperdamaikan mengasumsikan bahwa kedua hal tersebut terpisahkan. Dibandingkan pemikiran filsuf abad pertengahan lainnya yang tidak memiliki distingsi jelas antara Teologi dan Filsafat, Bonaventura justru menyatakan bahwa kedua hal tersebut berbeda tetapi tidak terpisahkan. Baginya, Teologi dan Filsafat sama dalam objek material, tetapi berbeda dalam objek formal. Jiwa manusia merupakan pintu diskusi antara Teologi dan Filsafat. Hal ini memungkinkan karena filsafat selalu berangkat dari sudut pandang subjek pertama sebelum membicarakan tentang dunia eksternal. Berarti, dalam diskusi antara Teologi dan Filsafat ini, (sekalipun menggunakan pemikiran dari Plato, Aristoteles, Plotinos dan terutama Agustinus) Bonaventura tidak hanya melakukan pendekatan ontologis, tetapi juga epistemologis.
Diskusi tentang jiwa manusia meliputi beberapa topik penting, yang dapat dirumuskan sebagai berikut: apa itu jiwa; dari mana jiwa berasal dan ke mana jiwa akan pergi; apa hubungan jiwa dengan tubuh; dan bagaimana sifat-sifatnya. Bagi Bonaventura, dan filsuf abad pertengahan lainnya, wahyu memberikan jawaban yang niscaya, dan tugas filsafat adalah merepresentasikan wahyu tersebut secara rasional dan sistematis.
Jiwa manusia adalah seminaliter dari Allah, dan merupakan imago Dei atau segambar-serupa dengan Allah. Hal ini mengimplikasikan bahwa jiwa manusia bersifat immortal.[2] Karena itu, jiwa manusia merupakan substansi yang berbeda dengan tubuh, karena tubuh dapat mati sedangkan jiwa tidak dapat mati (dualism substansial).
Mengenai asal usul jiwa, Bonaventura berposisi pada tradusianisme, yaitu paham bahwa aspek immaterial dari manusia diturunkan melalui generasi alamiah dari tubuh. Dengan demikian, jiwa manusia merupakan turunan dari jiwa Adam. Argumentasi tradusianisme adalah Tuhan sudah selesai dalam melakukan kegiatan penciptaan sehingga tidak ada lagi jiwa baru selain Adam. Maka dari itu jiwa seluruh manusia adalah jiwa turunan yang berdosa dari Adam.
Implikasi dari tradusianisme pada pengetahuan manusia adalah adanya ide bawaan yang merupakan pewarisan dari jiwa Adam. Ide bawaan (innate ideas) dari Adam adalah berupa ide tentang Tuhan dan ide tentang dosa. Hanya saja, menurut Bonaventura, pengetahuan manusia adalah tabula rasa ketika manusia dilahirkan. Jadi, ide bawaan menurut Bonaventura bersifat potensi, bukan actus. Maka konsep ide bawaan Bonaventura disebut sebagai modified innatism.
Pikiran manusia,tunduk pada perubahan, keraguan, kesalahan, dan fenomena yang kita alami dan ketahui juga berubah. [3] Di sisi lain pikiran manusia memiliki kepastian dan tahu bahwa ia melakukannya dan bahwa kita menangkap esensi berubah dan prinsip-prinsip. Hanya Allah yang tidak berubah, dan ini berarti pikiran manusia dibantu oleh Allah dan bahwa objek pengetahuan tertentu yang terlihat dalam beberapa cara sebagai berakar pada Tuhan, seperti yang ada di rationibus aeterna atau ide ilahi. Oleh karena itu melalui rasio aeterna, pikiran mencerap semua hal yang kita terimadari indra.
Terdapat tiga langkah untuk mengantar jiwa pada Tuhan, yaitu: Vestigium; jejak Allah sendiri, ditandai pada materi-materi di luar diri manusia. Imago; refleksi jiwa dengan dirinya sendiri. Similitudo; persatuan mistis antara makhluk dan penciptanya.